“Apa yang kau pikirkan saat kau mendengar kata GAME?”

Aku menyukai yang namanya game sejak kelas 4 SD. Ntah kenapa aku sangat bersemangat saat memainkannya. Rasa suka itu berkembang dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun hingga aku kelas 8, aku merasa duniaku hanya berputar pada game. Semua orang berkata aku gila, karena tidak begitu banyak anak cewek yang bertahan lama dengan game. Itulah salah satu alasan kenapa teman bermainku lebih banyak cowok daripada cewek.

Dibalik keseharianku yang terlihat sangat sibuk dibandingkan dengan anak SMP lainnya, awal kelas 8 ku mulai dengan game hingga aku memiliki “teman”, maksudku benar-benar “teman”, seseorang yang selalu ada untuk mendengar keluh kesahmu sehari-harimu, tertawa dan sedih bersamamu. Aku tersadar bahwa aku tidak bisa memusatkan hidupku hanya pada game dan menjadikannya comfort-zone ku karena di dalam game hanya ada aku, aku, dan aku.

Aku merasa terlalu egois terhadap orang lain dengan menjadikan game bagian dari hidupku yang mutlak. Saat kelas 8, aku memutuskan untuk tidak terlalu menempel dengan kehidupan game dan menikmati hidupku di dunia nyata karena yah, aku juga ingin memiliki seorang “teman”.

Kelas 8 berlalu dan hingga kelas 9 aku dapat terlepas dari dunia game. Kabar buruknya, aku tertempel dengan hal lain yang tidak begitu jauh dari game, anime. Harus aku akui, anime pertama yang kutonton sepanjang hidupku beberapa belas tahun ini bergenre romance-fantasy, Kamichama Karin, itu pun saat aku kelas 6 SD. Anime yang berhasil membawaku kembali dalam dunia animasi jepang ini lagi adalah High-School-DXD. Bukan karena aku mesum, tetapi karena aku menyukai animasi harem dan fantasy. Kalian para otaku pasti memahami apa yang kurasa. Karena merasa aku tidak cukup umur dan hanya ingin mengambil bagian actionnya, aku menskip banyak scene di film ini. Percayalah. Kelas 9 ini, aku masih memiliki seseorang yang kusebut “teman” meskipun aku berpisah kelas. Perpisahan kelas ini tidak membawa perubahan yang begitu besar, kecuali kesukaanku pada anime yang kembali.

Kelas 10, aku sudah bosan dengan anime dan sedikit berfokus pada pelajaran agar dapat memenuhi harapan kedua orangtuaku. Lagi-lagi ada kasus kecil yang membuat aku beralih dari dunia nyata, game.

Aku tersadar bahwa memang kehidupan ini tidak bisa begitu jauh dari “dunia lain” yang disebut ilusi. Karena jika terlalu fokus pada dunia ini, hanya kekecewaan yang akan didapat. Bermain game membuatmu merasa sedikit lebih baik. Bagiku sekarang, game hanyalah pemberhentian sementara saat aku bosan dengan dunia nyata yang sering membuat aku kecewa.

Mungkinkah pemikiran ini dapat berganti lagi? Entahlah, aku juga tak tau.

Advertisements