01:18 A.M
“Shit happens”
Memory card kamera, yang telah menjadi bagian dari hidupku selama hampir 5 tahun, terbelah menjadi 2 dan stuck di laptop.

***

3 hari sebelumnya, aku baru saja menyelesaikan kegiatan hunting fotoku di Gunung Bromo. Saat malam tiba, aku berjanji ke teman-temanku untuk mengirim beberapa foto group mereka besok karna keadaan tubuhku yang tidak memungkinkan membuka laptop dan mengirimi satu-per-satu foto mereka.

Keesokan harinya ternyata aku masih sakit dan keadaan tubuhku sedikit memburuk yang mengharuskanku istirahat seharian. Sorenya, mamaku masuk ke kamar dan bertanya, “kalo kamu diajak live in mau nggak?”. Aku mengangguk pasrah sambil memijati kepalaku. “Oke. Jadwalnya nanti mami atur”. Percakapan berakhir, aku mengakhiri kegiatanku dengan tidur pulas karena efek obat.

Hari berganti, dan aku terpaksa bangun pagi karena adik sepupuku yang demam tinggi sedang mengungsi ke rumahku karena ada alasan tertentu. Sebagai kakak sepupu yang baik, aku menemaninya bermain saat papa dan mamanya sibuk mengurus adiknya yang juga sakit. Mamaku masuk ke kamar dan membawa berita yang aku sendiri tidak tau termasuk kabar baik atau kabar buruk, “siapin semua bajumu! Besok kita berangkat”. Hening sesaat. “Seriously? Mami baru minta persetujuan kemaren, besok berangkat?” Tanyaku datar sambil sesekali melihat ke arah adik sepupuku yang tengah sibuk dengan mainan lamaku. “Ya gimana lagi? Bisanya besok”. Krik.

Siang harinya, setelah aku selesai merapikan pakaian untuk besok, aku berniat untuk memindahkan (back-up) hasil foto hunting sekalian mengirimkan ke teman-temanku. Dengan perjuangan keras karena Wi-Fi yang lemot, semua foto terkirim dengan lengkap dan aku segera membereskan laptopku karena harus segera ke RS Royal Surabaya. Kedua adik sepupuku positif demam berdarah.

Sepulangnya dari RS, aku membalas chat-chat yang bergelimpangan menggoda untuk dibalas.

00:23 A.M
Saat aku hendak membalas chat dari pacarku, aku teringat belum siap-siap untuk hunting besok. Ku ambil laptopku dan saat aku hendak mencabut memory card, it getting stuck dan bahkan terbelah jadi dua. Aku tertawa kecil dan perasaanku bercampur aduk lega, sedih, marah, dan bingung. Lega karena bad feelingku benar, sedih karena sudah banyak kenangan ku lalui bersama kartu memori itu dari zaman masih baru sampai pernah ke reset karena ada virus setelah nge-print foto, marah karena tidak ada yang bisa disalahkan kecuali diri sendiri yang cukup bodoh untuk meninggalkan kartu memori di dalam laptop, bingung karena besok seharusnya akan kupakai.

Aku belajar supaya selalu punya back up plan untuk back up plan. Jadi jika ada kejadian yang tidak direncanakan atau diharapkan, aku akan punya rencana cadangan. Dan jika rencana cadanganku gagal, setidaknya aku masih punya rencana cadangan dari rencana cadangan tersebut. Intinya adalah, aku harus punya kartu memori minimal 3.

Pelajaran lainnya, aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada apa yang kusukai. Karena terkadang hal-hal yang aku sukai bisa menyakiti diriku sendiri saat aku tersadar hal itu sudah tidak ada lagi.

Rest in Peace, memory card. [December 2012 – July 2016]

Advertisements