Angin sejuk berhembus dengan lembut. Aku melihat gadis kecil itu, gadis yang telah kuperhatikan selama 3 bulan terakhir ini, lagi-lagi berlari memutari lapangan kecil yang ada diujung kompleks. Ia terlihat sedikit lebih tinggi dari yang terakhir kulihat bulan lalu. Aku penasaran, mengapa ia terus berlari selama 3 bulan atau mungkin lebih secara terus menerus? Apakah disekolahnya akan ada lomba marathon? Atau apa?

Pada putarannya yang ke 7, aku melihatnya mengambil jeda dan terlihat akan beristirahat sambil meminum beberapa teguk air mineral. Aku mendatanginya dengan langkah perlahan karena aku tidak ingin membuatnya terkejut.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan? Persiapan lomba?” Tanyaku seraya menyodorkan roti yang baru saja kubeli.

“Tidak, hanya berlari. Terimakasih” balasnya setelah mengambil roti itu.

“Kau umur berapa?” Tanyaku

“Besok umurku 11 tahun” jawabnya dan menatapku tanpa ekspresi

“Untuk apa kau berlari? Kau ingin menjadi lebih tinggi daripada teman-temanmu?” Tanyaku dan mengambil tempat duduk yang ada di depannya.

“Em.. Mungkin.. Tapi tujuan utamaku bukan itu” katanya lalu membuka bungkusan roti itu dan memakannya.

“Lalu?” Aku memandangnya bingung.

Ia hanya terdiam sambil menikmati roti yang kuberi. Keheningan yang ditemani angin sore ini membuatku sedikit canggung.

Setelah rotinya habis, ia meneguk minumnya lagi dan menghembuskan nafas berat.

“Aku ingin agar semua orang dewasa dapat memahami apa yang kulakukan ini lebih dari sekedar berlari” katanya lalu membalas pandanganku dengan tersenyum.

“Hah?” Aku masih bingung.

“Orangtuaku besok akan bercerai” Katanya tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Maaf, aku tidak bermaksud…”

“Tak apa..” ia masih tersenyum padaku, “Aku tidak tau apakah orang dewasa dapat menangkap maksudku yang berlari seperti ini atau tidak. Tapi setidaknya, aku berlari dengan semua kekuatan yang aku punya. Semuanya membutuhkan effort” lanjutnya polos

“Maksudmu, setiap manusia harus melakukan semua yang mereka bisa bahkan ketika mereka tidak tau yang mereka lakukan itu akan berdampak baik atau tidak?” Tanyaku yang kemudian disetujui dengan anggukan kecil olehnya.

“Aku belajar dari kedua orang tuaku, perceraian mereka terjadi karena keduanya menyerah untuk berjuang. Aku tidak ingin anak-anak lain atau bahkan anak-anak di masa depan akan merasakan apa yang kurasakan. Mungkin tidak semua, tapi setidaknya aku telah berusaha mengurangi kemungkinan itu” katanya lalu terdiam, menikmati lagi angin sore yang menjadi sedikit kencang.

Aku ikut menikmati angin sore itu bersamanya dalam keheningan sesaat.

“Baiklah, hari semakin gelap, mungkin kau harus segera kembali ke rumah” kataku mengakhiri keheningan yang canggung ini.

“Tidak. Aku ingin berlari 4 putaran lagi” katanya lalu bangkit berdiri.

“Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Jaga dirimu baik-baik ya. Jangan pulang terlalu larut”kataku yang dijawabnya dengan anggukan dan senyuman.

Akupun bangkit berdiri dan meninggalkannya yang mulai berlari lagi.

Entah mengapa, anak itu membuatku merasa bahwa akulah dirinya yang berumur 11 tahun, dan dia adalah sosokku yang berumur 17 tahun ini. Ia pasti telah mengalami banyak masalah yang membuatnya harus mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Sejak hari itu, aku – yang telah memperhatikannya selama 3 bulan – tidak pernah melihat sosoknya lagi. Kepergiannya tanpa jejak membuatnya tidak pernah mengetahui bahwa apa yang ia lakukan telah membuatku lebih bersemangat untuk selalu melakukan semua yang aku bisa dalam segala hal. Mungkin perjuangannya menyampaikan pesan telah selesai disini. Ia harus berjuang di tempat lain. Teruslah berusaha, a little wise girl!

Advertisements