Semalam aku bermimpi kau adalah bulan dan aku adalah matahari. Tetapi kau bukanlah bulan yang berkorban agar matahari dapat menyinari bumi. Kau adalah bulan yang hadir dengan segala keindahannya namun menyingkirkan terangnya matahari. Kau terlalu indah untuk ku pandang dan terlalu jauh untuk ku gapai. Selalu bersama namun tidak benar-benar bersatu. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak pertentangan.

Aku tersadar bahwa kata “kita” ditakdirkan bukan untuk saling melengkapi, tetapi untuk saling mengikis. Karena segala hal yang indah perlu kikisan yang begitu keras, tajam, dan menyakitkan. Dan begitulah, kau terlalu indah untukku.Kita sama-sama tau perbedaan itu ada dan selalu hadir di setiap kebersamaan. Mengapa bertahan jika kita sama-sama tau akhir kisahnya? Ataukah sesungguhnya hanya aku seorang yang memahaminya?

Kau tau sendiri berapa banyak luka yang aku buat padamu, berapa banyak kekecewaan yang aku ciptakan, berapa banyak pengorbanan yang telah kau sembunyikan dariku. Mengapa bertahan?

Kau bukan Yoo Shi-Jin yang akan selalu mencintai Kang Mo-Yeon. Kata “kita” pada kisah kita bukanlah bagian dari cerita roman picisan ataupun seperti cerita romeo dan juliet. Kita adalah kita. Yang membenci, namun dari hari ke hari semakin mencintai. Yang menyanyangi, namun di dalamnya terdapat keputusasaan. Bersama hanya di dalam mimpi dan tak ingin pergi kemanapun lagi. Mencintai dan membenci jarak disaat yang bersamaan.

Kau tetaplah bulan dan aku adalah matahari.

Advertisements