Hujan lagi-lagi menari di atas kaca mobilku. Aku menikmatinya karena hari ini sedang not in the mood untuk bermain ponsel walaupun hanya untuk sekedar mengecek notifikasi. Ponselku terus bergetar tanpa henti menandakan ada begitu banyak notifikasi pembicaraan yang masuk tetapi tetap saja aku tidak tertarik untuk membacanya.

Sudah hampir 3 bulan sejak keputusan akhirku: pergi dan no turning back. Aku tidak lagi memberikan kesempatan bukan karena aku tidak menginginkannya lagi. Aku hanya merasa bahwa aku bukanlah orang yang tepat untuk memberinya kesempatan yang ketiga. Aku terlalu benci kenyataan bahwa semakin sering aku memaafkannya, ia juga akan semakin sering mengulangi kesalahan yang sama. Memangnya dirinya berharap aku akan bertahan melakukan ini hingga kapan? Aku lelah.

Terkadang ada hal-hal yang tidak memiliki kata “lain kali” dan hanya dapat dijawab “now or never“. Itulah keputusanku. Kesempatan yang kuberi di kesempatan kedua adalah “now“. Ketika kesempatan itu disalahgunakan, akan secara tidak sadar berganti menjadi “never“. Kenapa ia tidak pernah sadar akan semua hal itu sejak aku memperingatkannya 3 bulan sebelum hubungan itu benar-benar berakhir?

Dia tidak pernah bertanya apapun tentang hal-hal yang kutahu. Sekalipun ia bertanya mengenai hal yang ku tahu, aku tidak ingin membahas itu. Hal yang selalu ia lakukan hanyalah mengambil kesimpulan tanpa bertanya. Semua yang ia lihat dan dengar ia jadikan satu dalam pikiran tanpa memastikan apakah hal itu benar-benar terjadi.

Ketika satu kata dapat merubah sebuah  keadaan, berapa banyak hal yang dapat dirubah oleh satu kalimat pertanyaan?

Semua hal kulakukan dengan harapan dia akan bertanya padaku. Apapun itu. Alih mendapat pertanyaan, aku hanya mendapat tuduhan tanpa dasar. Pada akhirnya, aku hanya meng-iya-kan. Apakah ini salahku yang terlalu berharap? Sejujurnya, aku hanya terlalu lelah untuk mampu melewati semua tuduhan ini. Maaf.

걱정하지마, 난 괜찮아 😁😁

and it will always be like that.

Advertisements