Hal yang aku takkan pernah lupa, tepat satu tahun yang lalu, aku berdiri disini bersamanya. Kali ini aku kembali berdiri di tempat yang sama persis dengan orang yang berbeda. Entah kenapa setiap tempat yang aku lewati, selalu terbayang hal yang biasanya kami lakukan bersama.

We fight, we laugh, we enjoy all moment together. Marah karena kekacauan sistem pembagian tugas, have a fight karena aku yang terlalu sibuk, ketiduran waktu menjaga bersama. Menikmati setiap detik yang terlewat, setiap detak jantung yang berdetak, setiap irama yang disenandungkan.

🎡…We keep this love in a photograph

We made these memories for ourselves…🎡

Lagu yang dinyanyikan menjadi accoustic ini memecah keheningan dan membuatku tersadar bahwa semua itu telah berlalu. Semua bayang-bayang, kebahagian, amarah, kejengkelan, kekecewan, kekhawatiran. Itu semua hanyalah tentang ‘waktu itu’. Tak peduli seberapa seringpun aku mengingat setiap momen, dia tak akan pernah tau bahwa aku merindukan itu. Aku benar-benar merindukannya dan dapat kupastikan ia tak akan pernah tau.

Terlalu banyak janji yang diberikan dan tidak kami lakukan. Tetapi aku tak menyesal, karena setidaknya aku pernah merasa bahagia bersamanya. Comfort zone will always be a comfort zone. Takkan terganti.

Kami sama-sama melupakan bahwa hal yang terpenting dalam sebuah hubungan bukanlah hanya komitmen tetapi juga kebersamaan. Seberapa kuat komitmen yang telah dibuat, seberapa rasa sayang yang ada, kita semua tak dapat mengungkiri fakta bahwa kita juga butuh kebersamaan.

Kusadari bahwa kami tidak memiliki itu sebanyak yang seharusnya. Entah kenapa, aku tak menyesali yang telah berlalu itu. Aku tak akan pernah menjadi prioritasnya, mungkin juga sebaliknya. Pada akhirnya hanya ketidakpastian dan kemungkinan yang hadir diantara kami.

Advertisements