Aku memandangnya dari jauh dengan tatapan tanpa ekspresi seperti biasanya. Memperhatikan setiap senyum dan tawanya yang sejujurnya membuatku rindu.

Sayangnya, semua itu hanyalah mimpi. Karena sekarang nyatanya aku sedikit kesulitan menemukan sosoknya di tempat biasanya kami bertemu.

Kukira hanya jamku yang berhenti. Ternyata waktuku juga terhenti. Jika tidak begitu, setidaknya itulah yang aku inginkan. Menghentikan semuanya.

Aku menyesali telah mengawali semuanya. Bukan karena aku tidak bahagia, tetapi karena memang seharusnya aku tidak pernah berkata padanya “Yaudah, toh juga nggak ada bedanya”.

Hari itu aku lupa bahwa semua buku cerita berbeda penulis namun menuliskan awal kisah yang sama, selalu memiliki akhir yang berbeda.

Memang benar bahwa akan terasa sulit meninggalkan yang sudah kita ketahui akhirnya akan buruk disaat masih terasa bahagia.

Aku tak pernah percaya ketika semua orang berkata kami adalah Beauty and The Beast. Aku juga paham dia bukanlah Dilan, dan aku juga bukanlah Milea. Kami adalah kami, yang merasa hangat ketika bersama dan selalu dekat namun terasa jauh. Jarak juga bukanlah hal yang besar bagi kami. Bukan karena jarak hanya perihal angka, akan tetapi karena kami nyatanya tidak sedekat itu.

Ketika cinta ini terasa sederhana dan indah baginya, kenapa yang kurasakan hanyalah hampa dan tertekan? Bukan, ini bukan salahnya. Ini karena kesalahanku yang dari awal tidak pernah berkata apapun tentang hal-hal yang aku lalui tanpanya.

Aku ingin dia bahagia. Bahkan jika satu-satunya cara yang dapat membuat dia bahagia adalah harus berpindah hati dariku, aku tak akan mempermasalahkannya. 

Aku harus dapat menerima kenyataan bahwa kami memang tidak seharusnya bersama. Ini semua terjadi bukan karena takdir, tetapi karena memang sudah seharusnya begitu.
Apapun yang telah dia lakukan padaku, sejahat apapun dia di mata orang-orang di sekitarku, for me, he’s came to my life as a broken angel with all his imperfections and all what he want is make me to be happy. Aku tak ingin dia lebih jauh merasakan apa yang seharusnya tak pernah dia rasakan.

Ini usahaku untuk melindunginya, karena hanya aku yang tau dengan jelas apa yang akan terjadi kalau saja kami tak akan berhenti. Aku berkata bahwa aku membencinya dan tak lagi memiliki rasa itu pada semua orang yang bertanya mengapa aku mengakhirinya. Salahkah?

Pada akhirnya, dia dapat bahagia tanpaku seperti apa yang kubayangkan dalam setiap mimpi-mimpiku dan bahkan jauh lebih baik daripada itu.

G o o d l u c k , s w e e t   h e a r t.

Advertisements