Hari masih terus berganti, waktu terus berputar tanpa mengenal lelah. Seiring mataku berkedip dan air mata yang terus mengalir, semuanya menghilang. Semudah itu cinta hilang demi mencari kesetiaan yang didambakan.

Pada akhirnya, semua yang dicintai setengah mati, dapat hilang dalam sekejap mata dengan alasan yang tak pernah terlintas dalam benak. Entah karena bosan ataupun telah menyadari kehadiran cinta yang lain.

Bahkan ketika sebuah ikatan tergantung pada keputusan orang ketiga, semuanya masih dapat berakhir semudah jam yang melewati setiap detiknya untuk menuju perpindahan menit.

Mereka bilang cinta yang tak harus memiliki itu menyakitkan dan semuanya hanyalah omong kosong. 

Benarkah semua cinta harus dimiliki?

Bukankah yang tulus hanya mengharapkan kebahagiaan untuk yang dicintai?

Bukankah ketulusan adalah ketika kau merawat dan menjaga kepompong dengan sangat hati-hati meskipun kau tau saat mereka menetas akan terbang meninggalkan dengan segala keindahannya?

Bukankah cinta adalah membiarkan bunga untuk terus tumbuh sebagaimana semestinya dan bukannya mencabutnya untuk menjadi milikmu?

Semua itu yang kulakukan. Mencintai seakan semuanya sempurna. Bahkan ketika aku menyadari cepat atau lambat semuanya akan segera berakhir, aku masih mencintainya dengan semua kekurangannya. Memberikan segala toleransi dan berdiam dalam segala kesesakan karena komunikasi tak lagi dapat tersampaikan semudah pertama kalinya.

Harus aku akui, kesalahan terfavoritku adalah bertahan untuknya meskipun aku tau suatu saat akan berakhir juga, menjadi sesosok orang yang kusebut ‘diriku sendiri’ saat berada di sekitarnya, memiliki pemberhentian untuk menyadari orang-orang yang sayang padaku lebih banyak dari yang aku tau.

Aku ingin mereka tidak hanya mengerti, tetapi juga memahami bahwa semua keputusan yang telah aku buat adalah untuk mewujudkan ketulusan yang kumiliki. Ketulusan yang menyakitkan bagiku dan mungkin juga baginya.

Aku selalu ingin menjadi yang pertama baginya. Dan yah, i never really made it. Sampai semuanya berada di titik akhir, masih belum juga dapat kulakukan. Karena menjadi yang terakhir juga bukanlah hal yang mungkin lagi, keinginanku hanyalah sesederhana ingin menjadi titik kembali.

Ketika tak ada orang lagi yang dapat dipercaya, tak ada lagi orang yang memahami, aku akan selalu ada disini, siap menjadi titik kembalinya. Bahkan jika dia memutuskan tak akan kembali, aku masih akan terus menunggu. 🙂

Advertisements