Beberapa bulan yang lalu, aku sempat membuat vlog yang heavy talk. Aku memberikan vlog itu ke seseorang yang memang deserves atas semua kerja kerasku atas pembuatan video itu dalam waktu 4 hari penuh.

Tepat 2 minggu yang lalu, aku menunjukkan vlog itu kepada seseorang terdekatku untuk meminta pendapatnya mengapa vlog itu dapat membuat sedih. Karena yah, sebagai orang yang menyukai humor, aku memasukkan humor ditengah heavy talk itu.

Tanggapan yang aku dapat hanyalah, “Tadi lek aku fokus nonton e, bee nangis pisan“.

Aku yakin benar hal yang ada di dalam pembahasan vlog itu hanyalah evaluasi-evaluasi sederhana dalam sebuah hubungan dan juga so much apologize. Seharusnya tidak ada hal yang dapat ditangisi. Akulah sang penyampai yang seharusnya menangis.

Beberapa hari setelahnya, aku tersadar yang membuat vlog itu dapat membuat orang menangis adalah karena semua yang kurasakan begitu kentara dan jelas. Setiap kata yang terucap, begitu detail menjelaskan kekecewaan atas sikapku dan juga sikapnya yang tidak jelas selama beberapa waktu berjalan. Dengan berjalannya waktu pun.. Aku belajar..

Cinta bukanlah saat pasangan mengatakan padamu, “aku mencintaimu dengan tulus” ataupun saat pasanganmu memprioritaskan kamu dalam segala sesuatunya. Cinta dimulai saat pasanganmu tidak lagi mencintaimu seperti yang kamu inginkan, ketika kamu tidak lagi menjadi prioritasnya. Cinta itu tidak selalu tentang apa yang kamu dapatkan, tetapi tentang memberi dari apa yang sebenarnya tidak bisa kau beri.

Hal inilah yang membuatku teringat bahwa aku kecewa ketika dia tidak lagi mencintaiku seperti yang aku inginkan. Tidak ada lagi berbagi dari sudut pandang sang waktu yang sangat sulit ditemukan. Dia bukanlah lagi prioritasku. Cintaku bukan lagi seperti yang pertama kalinya. Aku tersadar, aku tidak lagi hanya kehilangannya secara relasi, tetapi juga cintaku untuknya.

Advertisements