Hari-hari terlewat dengan begitu cepat. Hal yang ku sadari belakangan ini, aku telah genap 2 tahun tidak bertemu dengan “seseorang” yang sering kali muncul dalam pikiranku sejak aku kecil. 

Kami tidak benar-benar mengenal satu sama lain. Aku hanya sekedar tahu namanya, sekolahnya, dan siapa orang tuanya. Mungkin ia juga hanya mengetahui namaku dan orang tua ku. Aku tak begitu memikirkan apa saja yang ia ketahui tentangku. Bagiku, dapat melihatnya tersenyum dari jauh, sudah membuatku merasa cukup.

Anak laki-laki yang dulu sangat kukagumi saat aku berumur 5 tahun kini telah bertumbuh dewasa menjadi seorang lelaki yang dipuja banyak wanita dengan tinggi badan lebih dari 170 cm. Dia tak banyak berubah selain suaranya yang menjadi jauh lebih berat. Senyum, tawa, dan candaannya pun masih terasa sama bagiku.

Saat ia berada di kerumunan orang, beberapa kali mata kami bertemu. Saat-saat itu lah aku merasa sangat beruntung sekali dalam setahun. Ya, aku bertemu dengannya sekali dalam setahun dulu. Tidak benar-benar bertemu bahkan untuk menyapa, tapi setidaknya ia mengetahui keberadaanku dan begitu juga sebaliknya.

Aku sangat rindu, meskipun aku menyadari duniaku dan dunianya kini sangatlah berbeda. Kami tak akan semudah dulu untuk sekedar saling menatap dan memperhatikan dari jauh.

Ada begitu besar ketidakmungkinan dan aku menyadari hal itu lebih cepat dari yang kukira.

Hal-hal yang aku pelajari adalah bagaimana aku memutuskan untuk tetap mengaguminya meskipun tak terbalaskan, membuat kesepakatan dengan diriku sendiri untuk tetap terus menanti hari itu meskipun hanya datang selama 180 dari 74.880 menit dalam setahun.

Sudah lebih dari cukup bagiku menanti untuk mendengar suaranya yang menenangkan dan melihatnya tersenyum setiap tahun selama 10 tahun berlalu. Terimakasih untuk 1.440 menit yang menyenangkan.

Advertisements