Tahun 2012-2013 adalah tahun dimana permainan Role Play atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai parodi booming. Banyak orang berkata Role Play dan Parodi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Namun kali ini, aku asumsikan keduanya sama karena sama-sama mempelajari dan mencoba menjadi “sesuatu”.  Aku harus mengakui bahwa keberadaan Role Player memang sempat meledak waktu itu, terutama di Twitter, karena aku telah membuat 4 akun Role Player dalam waktu 1 tahun. Mulai dari artis Indonesia hingga artis Korea memiliki  Role Playernya masing-masing. Bahkan ada beberapa yang diresmikan oleh sang artis itu sendiri.

Berhubungan dengan itu, aku banyak mendengar keluhan dari Generasi Z mengenai betapa sulitnya hidup pada masa remaja sekarang, nggak semudah di drama-drama atau Role Play World, dan kebanyakan orang tua menanggapi hal tersebut dengan berkata, “Loh, dari dulu juga gitu kok. Kan masa-masa remaja memang waktunya mencari jati diri”.

Aku tidak akan berkata bahwa mereka berbohong tentang itu karena memang begitulah adanya. Akan tetapi, apakah ada yang menyadari bahwa pernyataan tersebut seharusnya mendapat tambahan 1 kalimat lanjutan?

“…Setelah mereka dapat menemukan jati diri, mereka akan belajar bagaimana menutupi jati dirinya yang mungkin tidak dapat diterima oleh masyarakat dan menonjolkan apa yang akan disukai banyak orang.”

Deal with it or nah, it’s the sad truth.

Mungkin memang benar dunia kita tidak seperti Role Play World. Karena dunia kita adalah Role Play World itu sendiri. Menggunakan alasan “mancari jati diri” untuk menutupi kebocoran dalam membangun dinding yang ingin dilihat orang lain. Menyalahkan keadaan dunia yang terus semakin fake hanya karena ingin menjaga suatu hubungan baik satu sama lain tanpa menyadari bahwa mereka adalah salah satu bagian dari dunia itu sendiri. Bukan berarti juga kita dapat berbuat semau kita dan menyakiti orang lain demi mewujudkan kebebasan yang kita inginkan. Mungkin secara sosiologis kita menyebutnya sebagai akulturasi dimana kita harus berubah menjadi lebih baik namun tidak menghilangkan jati diri kita.

Membiarkan orang lain mencintai segala ketidaksempurnaan yang ada dan mencoba untuk saling memperbaiki diri dan bukannya malah menutup rapat-rapat segala hal yang tidak dapat diterima oleh siapapun, atau malah mungkin ingin mempertahankan itu secara publik? Somehow, 0,0000000001% perubahan dari milyaran orang di dunia lebih baik daripada tidak sama sekali, right?

Advertisements