“Hal ini cukup mengganggu. Aku tak peduli bagaimana kata “kita” dimatanya, tetapi yang jelas, apapun yang dia lakukan pada temannya, entah kenapa berpengaruh pula padaku secara langsung. I feel uncomfortable!” kataku.

“Tetapi kalau memang kamu tak peduli, seharusnya tidak akan ada hal yang akan mengganggumu. Apa aku benar?” Balasnya.

You got a point. Tapi pernahkah kamu merasakan ketika kamu hanya ingin hidup tenang dan damai, tidak peduli apapun, kemudian datang sebuah gangguan yang merusak ketenanganmu? Apakah kamu akan berdiam diri?” Tidak, aku tidak mengatakannya. Setidaknya, itulah pikiranku meskipun aku tidak mengatakan apapun.

“Kalau memang itu mengganggumu, katakanlah padanya, berbicaralah..” Katanya setelah menghela nafas panjang.

“Memangnya dia mau? Bahkan ketika aku berusaha membaur dengan teman-temannya, dia yang selalu menjauh.” Kataku kesal.

“Bisa saja itu hanya persepsimu?” Balasnya lagi lalu kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.

Beberapa bulan yang lalu, ada seorang teman yang (bagiku) memulai perdebatan. Kisah satu ini bahkan belum berakhir hingga hari ini atau mungkin saja hanya aku yang menganggapnya begitu. Aku tahu benar apa yang dia inginkan, yaitu berbaikan. Meskipun ia bahkan tak berusaha untuk itu, aku tak ingin ambil pusing karena hal itu tidak berurusan denganku. Karena pikirku, “dia yang menginginkannya, bukan? Kalau memang dia ingin, seharusnya dia yang berusaha. Kenapa aku yang harus mengejarnya untuk berbaikan?”.

Aku berpikir begitu bukannya tanpa alasan. Aku sudah berulang kali melalui hal yang seperti ini, dan hal yang dia lakukan setelah aku “mencarinya” adalah mengatakan bahwa aku baper dengannya. Apakah semua kegiatan “mencari” adalah baper? Apakah semua kegiatan “mencari” memiliki arti khusus selain ingin memperbaiki hubungan? Apakah perhatian semacam “semangat ya. God Bless you” berarti baper? Kalau memang begitu nyatanya, berarti aku adalah perempuan yang “mudah”, dong?

Selama ini aku mengikuti cara bermainnya, membiarkan dia berlaku seenaknya, membicarakanku semau dia. Aku mengetahui semuanya, tapi satu-satunya hal yang kulakukan adalah tidak ada.

Memangnya siapa yang mau menjadi seperti ini? Dia kira kenapa aku berlaku seperti ini? Mungkin aku memang orang yang cuek, tetapi aku tidak bodoh. Memang aku orang yang terlalu memikirkan diri sendiri seperti yang dikatakannya, tetapi aku tau batasannya dan tau kapan aku harus melepaskan pemikiran-pemikiranku itu.

Setidaknya itulah pemikiranku minggu lalu.

Hingga kusadari..

Aku telah banyak berubah. Dari caraku bersikap, memberi tanggapan, memberi respon, semuanya. Hal yang aku ketahui selama ini adalah aku mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganku. Aku selalu ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin dan hanya hal itulah yang aku tau. Aku tidak pernah look back hal-hal apa yang sebenarnya aku inginkan untuk diriku sejak awal. Bahkan ketika aku telah menjadi lebih dari yang kupikirkan, aku tak menyadari hal itu telah terjadi. Aku beberapa kali berkata, “People only listen to reply, not to understand it.” tanpa menyadari bahwa aku telah menjadi salah satu orang itu. Ini bukan hal yang besar, tidak seharusnya aku terlalu memikirkannya. Communication will do. Mungkin tidak seutuhnya, tapi aku yakin hal ini akan berhasil saat aku benar-benar membicarakannya berdua dengannya. Aku tak tau kapan hal itu akan terjadi. Aku hanya yakin. Tidaklah lagi sebuah semoga.

The more you try to fit in, the more you realize you’ve already become too far from what you want to be in the first place, either in positive ways or negative ways.

Advertisements