11 april 2017, 3:55 dini hari.

“…”

“Mimpi..” batinku dan menghela nafas panjang.

Aku menggulingkan badan dan melihat jam yang tertera di ponselku, masih subuh. Aku sudah tidak tertarik lagi untuk kembali tidur meskipun aku masih mengantuk. Masih ada 1 jam lagi sebelum aku memulai hari ke-2 UN dan aku terlalu lelah untuk membuka buku lagi setelah mengerjakan soal try out semalam selama 2 jam. Bukannya aku tidak berusaha, tapi semacam sudah bosan harus tidur subuh untuk catch up semua ketertinggalanku di bidang matematika yang cukup aku sukai dari SD.

Aku teringat sebuah kisah saat mamaku melakukan kegiatan yang selalu dilakukan semua orang tua di akhir semester, mengambil rapor. Hari itu rumahku kedatangan tanteku which means tanteku juga ikut mengambil raporku. Hari itu aku merasa sangat tenang karena aku yakin pasti naik kelas. Bukan karena aku sudah tau bahwa anak SD kebanyakan pasti naik kelas, tetapi karena aku selalu mendapatkan nilai yang bagus dan diatas rata-rata. 

Mama dan tanteku kembali, tetapi tidak memasang wajah yang menyenangkan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kamu nggak naik kelas” kata tanteku.

*hening*

“HAH?” Tanyaku kaget.

“Iya. Kamu nggak naik kelas.”

*hening*

“Nggak mungkin!” Kataku masih kaget.

“Kenapa kamu yakin banget bakal naik kelas?” Tanya tanteku.

*hening*

“S-soalnya.. selalu dapet nilai bagus..” kataku menahan air mata. 

Tanteku menahan tawanya, “bercanda kok. Kamu naik kelas.” Katanya lalu tertawa dan menunjukkan raporku.

*hening*

“YEAY!” kataku kegirangan dan langsung masuk kamar melihat raporku.

Dulu sesederhana itu rasa percayaku pada semua usahaku. Saat aku melihat kembali ke diriku yang sekarang, yang sudah hampir lulus SMA, aku tertawa. Selama 3 tahun ini, hal yang aku tau dalam sekolah adalah catch up. Mengejar semua ketertinggalan dan bagaimana caranya untuk menjadi selalu bisa dalam banyak hal. Aku lupa bagaimana rasanya puas terhadap hasil kerja kerasku selama setahun penuh dan bukannya malah menggerutu karena hasil yang kudapat tidak sesuai ekspetasiku.

Harus ku akui SMA ini jauh lebih berat daripada tahun-tahun sebelumnya karena aku melibatkan diri di banyak event sekolah dan bahkan mengikuti lomba mading tahunan disamping aku harus catch up di semua mata pelajaran dan juga pelayanan di gereja.

3 tahun ajaran ini semuanya akan segera berakhir dalam waktu dekat dan semua itu ditentukan oleh 4 hari masa ujian. Sungguh lucu ketika aku masih merasa bahwa baru kemarin masuk SMA dan merasa, “Kenapa anak-anaknya sama semua kayak  waktu SMP sih?” Karena sebagai anak pindahan dari sekolah lain saat SMP, aku merasa seperti totally stranger di sekolah itu. Beda dengan SMA yang mayoritas anak-anaknya melanjutkan sekolah ke SMA disana juga, termasuk aku. Karena itulah tidak heran sudah banyak orang yang aku kenal saat awal kelas 10.

Aku yakin akan merindukan semua ini. Kesibukanku akan les, pelayanan, dan lomba, hubungan persahabatan yang up dan down, yang sudah jarang berkumpul meskipun sering bertemu tetapi masih menganggap hubungan persahabatan itu sangat baik, drama-drama klasik SMA, secretly fall in love dan “cia-cie” things, cerita-cerita tentang masa depan mulai dari study, cita-cita hingga keluarga, semuanya.

Masih ada waktu kurang lebih satu bulan hingga saat pelepasan nanti. Dan guess what, aku sudah merindukan sekolah yang penuh dengan jamkos setelah masa-masa ujian.

Aku tidak ingin kembali, tetapi aku ingin menikmati status satu bulan terakhir ini sebagai bagian dari anak SMA.

“You never know how valuable a moment until it becomes a memory”

Advertisements