Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup

Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara

Engkaulah matahari firdausku menyinari kata pertama di cakrawala aksara
Kau hadir dengan ketiadaan

Sederhana dalam ketidakmengertian

Gerakmu tiada pasti

Namun aku terus di sini

Mencintaimu

Entah kenapa

Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan

Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam

Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada

Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap

Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut

Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi

Tunggu aku,

Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu

Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayang

Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang antara duka mencinta dan bahagia terdera

Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi bersiap diri untuk selamanya lelap

Andai kau sadar arti pelitamu

Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu

Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku

Karena kita satu

Andai kau tahu

Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara

Engkaulah lengang tempatku berpulang

Bunyimu adalah senyapmu

Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban

Dalam hadirmu, keabadian sayap mengecup

Saput batinku meluruh

Tatapmu sekilas san sungguh

Bersama engkau aku hanya kepala tanpa rencana

Telanjang tanpa kata-kata

Cuma kini

Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang

Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan

Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta

Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya

Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi

Terjauh yang sanggup kujalani

Meski hanya satu malam dari ribuan malam

Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku

Sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata mambatasi aku dan engkau

Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita

Engkau membuatku putus asa dan mencinta

Pada saat yang sama
Bara yang membakar nadiku kini

Magi yang menyulap semestaku ini

Hanya singgah untuk musnah

Tersihir, tersiksa, tersia-sia

Di antara angkara

Dua kutub yang berbeda

Kita meregang

Tak berkesudahan
Di ufuk engkau terbenam, aku terbit

Di teluk engkau tenggelam, aku pasang

Sejauh apa pun garis waktu engkau tempuh

Hadirku selalu di balik matamu

Seluas apapun ruang yang engkau rengkuh

Cintaku selalu di luar sadarmu
Akulah awal dan engkaulah akhir

Meniadakan kita berdua

Adalah satu-satunya cara kita bisa bersama

-Dee Lestari, 2016.

Advertisements