Aku menatap tiket kereta menuju Jakarta yang kini ada di depan mataku. Pemberangkatan pukul 20.00 WIB tidak menghentikan keluargaku untuk tiba di sana sekitar pukul 18.00 WIB. Masih ada kurang lebih 2 jam dan kami memutuskan untuk menunggu. Aku mengambil beberapa shot video dan memfoto beberapa strangers. Waktu belum berjalan banyak dan aku sudah mulai sedikit bosan. Kakak laki-laki ku juga tengah kelelahan karena sedang terserang flu berat, jadi aku juga tidak tega untuk mengganggunya.

Setelah menyempatkan diri untuk makan, aku terdiam merenungkan hal-hal yang akan aku lakukan setelah sampai di tujuan.

Tak tidur sek ya” kata kakak laki-lakiku lalu bersandar pada pundakku dan tertidur dalam hitungan detik.

Ia terbangun setelah tidur sekitar 5 menit karena posisi tidurnya yang membuat lehernya tidak enak. Dan telah ku putuskan untuk membaca novel yang ku bawa. Setelah membaca beberapa chapter, aku mulai mengantuk. Ku tutup dan ku masukkan ke dalam tas, lalu bersandar pada pundak kakak laki-lakiku. Well, aku merasa tenang.

17 tahun lebih telah cukup bagiku untuk terbiasa bermanja-manja dengannya, menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang, memahami kesukaan dan ketidaksukaannya. Dia pacar pertamaku. Tidak, tidak secara harafiah dia benar-benar pacarku. Hanya terasa seperti pacarku. Aku dan dia memiliki banyak persamaan, terutama hobi atau kesukaan. Kami juga tak jarang bertengkar karena perbedaan pendapat seperti “lebih enak Indomie kuah atau Indomie goreng?” Dan berbagai hal-hal konyol lainnya. Tapi kami bertahan pada semua perbedaan-perbedaan itu. Jelas alasannya karena tidak mungkin salah satu dari kami harus pindah rumah. Toh, kalaupun memang sudah sangat kesal satu dengan yang lain, kami memiliki kamar masing-masing untuk berdiam diri. Tidak perlu berpindah rumah.

Hal yang aku sadari adalah aku sangatlah beruntung memilikinya. Banyak hal yang tak mungkin dapat ku lakukan jika tidak ada dia. Banyak hal yang tidak akan aku ketahui jika tidak ada dia. Banyak rasa yang mungkin tidak dapat aku pelajari jika tidak ada dia. Rasa amarah, kecewa, empati, senang, terharu, dan tentu saja beserta dengan bagaimana cara mengendalikan semua rasa itu.

Dulu saat aku berumur 5 tahun, aku membencinya dan pernah sekali berkata dalam hati, “Aku menginginkan seorang kakak perempuan! Itu jauh lebih baik!” Hanya karena dia berkata padaku untuk tidak menjadi anak yang cengeng. Ketika kini ku lihat kembali masa itu, justru hal itu yang membuatku kuat sekarang. Mungkin beberapa kali aku mengeluh, namun aku tidak menangis lagi dalam menghadapi semua hal yang menyakitkan dan sulit. I can stand and dance in the storm now because of his mean words back then.

Hal yang paling kusukai dari menulis adalah saat aku tersenyum mengingat semua kisah yang telah berlalu dengan orang yang bersangkutan dan mencari kata untuk membagikannya pada orang lain. Kisahku dengannya adalah favoritku. Tidak banyak sedih dan tidak banyak senang. Stable dan terkadang aku dapat merasakan keduanya sekaligus darinya. Dia adalah hadiah kecilku yang besar yang diberikan oleh Tuhan lebih dari 17 tahun yang lalu dan aku mencintainya ❣️

#HappySuperLateSiblingsDay?😂🌻

Advertisements