Pernahkah kalian berpikir siapakah diri kalian di mata orang lain?

Pernahkah terlintas dalam pikiran kalian seberapa berharganya kalian bagi orang lain?

Beberapa hari yang lalu aku memikirkan hal-hal sederhana seperti:

Apakah aku worth it untuk dipertahankan?

Apakah jika aku menghilang, akan banyak orang yang khawatir?

Hm.. aku tidak begitu yakin. Toh, juga pada akhirnya aku tetap bukan siapa-siapa bagi siapapun. Semua yang ku lakukan hanya ingin fit in. Apapun yang aku lakukan, aku tetap bukan siapa-siapa. Tidak banyak hal yang dapat ku lakukan untuk orang lain. Yang selalu ku lakukan hanyalah membantu sebisaku. Hanya itu.

Seperti yang ku tuliskan di blog terakhirku, aku menyempatkan diri untuk liburan ke Jakarta untuk berkunjung ke rumah saudara sepupuku. Aku memiliki 2 saudara sepupu disini dan tentu saja aku menyayangi keduanya mengingat aku telah menjadi salah satu witness mereka bertumbuh hingga sekarang mereka berada di kelas 1 SD dan 4 SD. Sambutan pertama yang aku dapat dari omku adalah cerita bahwa mereka telah menunggu kedatangan keluargaku dari pagi-pagi sekali dan ketika sudah waktunya untuk bertemu, mereka justru ketiduran. Mungkin saking senangnya? Aku tertawa kecil.

Setelah beberapa hari berada di Jakarta, adik sepupuku berkata bahwa ia akan ulangan harian dan memintaku untuk membantunya. Tentu saja pelajaran kelas 1 SD sudah pasti tidak sulit bagiku. Aku mengajarinya menghafal dengan cara sederhana yang biasanya ku pakai saat SD dulu.

Keesokan harinya, kakaknya yang berkata bahwa ia memiliki PR menggambar dan lagi-lagi meminta bantuanku. Aku hanya meng-iya-kan karena menggambar sudah menjadi bagian dari hidupku sejak TK A. Setelah selesai mengerjakan gambar tersebut dan mewarnainya, serta membantu adik sepupuku yang kelas 1 belajar lagi, adik sepupuku ini memperhatikanku dengan serius saat aku hendak merapikan pekerjaan kakaknya.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Kok cece bisa semuanya sih?” Tanyanya balik lalu tertawa lagi.

“Eh?” Aku bingung harus menjawab apa. Karena bagiku, semua ini bukanlah apa-apa.

Pada akhirnya, anak berumur hampir menyentuh 7 tahun inilah yang mengingatkanku pada kemungkinan bahwa aku tidak melakukan banyak hal yang besar dan sesuatu yang “apa-apa” bagiku, tapi hal yang kecil bagiku belum tentu kecil bagi orang lain. Dan tanpa kusadari, aku telah menjadi apa-apa dalam hidup seseorang yang lain itu karena aku telah mengambil bagian dalam hidup mereka entah secara langsung maupun tidak langsung.

Beberapa detik terlewat dan aku tersenyum lalu memberikan head pat padanya.

“Ya cece belajar, dong! Nggak mungkin cece lahir langsung bisa ini itu. Makanya banyak belajar!” Kataku lalu tertawa.

“Iya!” Katanya semangat lalu mengikuti caraku mewarnai saat mengerjakan PR kakaknya.

Aku juga tersadar bahwa pelajaran dalam hidup yang kita dapatkan tidak hanya berasal dari orang-orang yang lebih dewasa atau tua. Terkadang, mereka yang lebih muda memberikan banyak pelajaran juga. Mungkin seseorang yang bukan siapa-siapa dapat memberi pelajaran juga karena kita tidak akan pernah tau dari siapa kita akan mendapat jawaban dari masalah-masalah yang ada di pikiran kita ataupun dari siapa kita akan mengingat pelajaran-pelajaran yang telah lama kita lupakan. Mungkin saja!🌹

Advertisements