(adjective)

  1. arousing pity, especially through vulnerability or sadness.
  2. sinonim: pitiful, pitiable, piteous, moving, touching, poignant, plaintive, distressing, upsetting, heartbreaking, heart-rending, harrowing, wretched, forlorn
  3. archaic

    relating to the emotions.

 Pertama kali aku mengenalnya, 2 tahun lalu, ia menyapaku dengan hangat padahal kita sama sekali tidak mengenal satu sama lain saat sedang melewati seleksi suatu organisasi. Harus aku akui dia bukanlah tipe cowok yang suka basa-basi dan begitu to the point. Bukannya aku tidak suka dengan itu. Tidak. Hanya saja bagiku semua itu tidak wajar dilakukan orang-orang pada umumnya. 1 banding 40 orang yang kuketahui, hanya dia lah yang dapat dengan santai berbincang-bincang seenak jidatnya denganku saat baru mengenalku selama 30 detik.

Seminggu berlalu dengan aku memilih hari yang berbeda dengan yang dia pilih dan yah, dia lolos. Aku tidak. Aku mulai tidak menyukainya karena orang-orang yang kukenal dalam organisasi itu juga mulai memperlakukanku berbeda dibanding saat sebelum seleksi dulu. Dia tidak bersalah, dan aku sedikit tidak menyukainya. Harus aku akui itu.

Meski aku tidak dalam organisasi itu, aku masih dapat membantu sebagai orang eksternal. Aku memutuskan untuk membantu meski banyak hal yang secara manusiawi sedikit membuatku jengkel. Cowok yang kukenal saat seleksi dulu begitu sibuk, hingga aku bahkan tak begitu sering melihat bayangnya meski kami bekerja dalam satu event. Aku terkadang menertawakan diriku yang berharap dapat berteman dekat dengannya meski aku tau aku akan mendapat “hal buruk” yang dulu pernah kudapatkan semudah aku membalikkan tangan.

Aku nggak begitu ingat kapan saat temanku ada yang bertanya, “Kamu kenal y dari kelas IPA nggak?”

Aku sedikit berpikir keras dimana aku pernah mendengar nama yang telah disebutnya dengan lancar itu.

“Kalo kenal ya kenal.. Kenapa? Mau tak sampein ta?” Tanyaku balik setelah jeda yang cukup lama.

Dan dia berkata, “Ya”.

Begitulah. Job sebagai mak comblang yang tiba-tiba ini membuatku dekat dengan cowok itu. Suka tidak suka, aku berusaha untuk tetap chat demi menyampaikan pesan temanku yang ingin dikenal sebagai anonymous atau biasa kita sebut sebagai secret admirer.

Setelah aku memutuskan menjadi perantara dengan bayaran literally-persahabatan, aku mulai sering bertemu dengannya. Bahkan ketika aku menghindar berusaha menjauhinya karena temanku mulai cemburu, aku tetap bertemu. Mungkin dia sudah mempelajari ilmu genjutsu (Teknik yang menggunakan cakra pada sistem saraf lawan untuk menciptakan ilusi; Naruto reference) dengan sempurna setelah 1 tahun berlalu. Saat itu aku jadi yakin bahwa dia telah ditakdirkan untuk menjadi jodohku temanku meski terkadang dia sangat menyebalkan.

Berakhirnya graduate exactly two weeks ago menandakan bahwa telah benar-benar berakhir masa SMA ini. Mungkin begitu pula dengan pertemanan yang telah ku usahakan selama hampir setahun ini karena aku begitu yakin dunia perkuliahan akan menjadi pembatas pertemuan untuk sekedar saling menghina. Gonna miss him? Maybe.

Semoga 8-10 tahun ke depan, saat kami akan reuni nanti, kami tidak akan saling menghina lagi. Maafkan diriku yang pathetic karna menyimpan rasa tidak suka selama setengah tahun dan last but not least salam perjuangan untuk menembus seleksi YG Ent.!

-YOungSOfficial, 2017.

#PejuangTangguhYangTakBahagiaBukannyaMenyedihkan

Advertisements