11.55 PM

Ingin aku percaya pada setiap kata-katanya, pada setiap apa yang aku dengar darinya. Ingin aku mencoba untuk percaya lagi, lagi, lagi, dan lagi aku terjatuh pada lubang yang serupa.

Kesekian kalinya setelah berhasil keluar dari lubang itu, aku menemukan lubang yang rupanya sama. lagi. Namun kali ini aku terhenti untuk menghela nafas sejenak. Awalnya aku ingin melangkahi saja dan berharap semua akan berlalu. Aku terlalu lelah untuk memanjat ke atas lagi dan terlalu menyedihkan untuk diingat bahwa aku telah berulang kali mengalami hal yang sama.

Aku tertawa.

“Semua ini membosankan, melelahkan, dan sia-sia,”

“Tidak dapatkah kau percaya bahwa akan selalu ada hal baik dibalik semua ini?”

“Tidak. Semua ini seperti buku yang serupa dan aku sudah mengetahui akhirnya.”

“Bagaimana jika kukatakan bahwa setiap lubang yang kau lalui sangatlah berbeda satu dengan yang lain?”

“Tidak mungkin kan? Hahaha”

“Kau ini bodoh”

“Memang. Terimakasih telah mengingatkanku pada kenyataan.”

“Tak bisakah kau percaya padaku kali ini?”

“Tidak. Tidak kali ini.”

Tentu saja pembicaraan ini bukanlah tentang lubang secara harafiah. 

Semua percakapan itu adalah kata hati dengan otakku yang tengah berkelahi. Yah, kira-kira sajalah yang mana suara hatiku.

Ingin aku memejamkan mata meski hanya sejenak. Menikmati kesunyian, mendengarkan betapa lembutnya senandung yang selama ini tak pernah kusadari telah lama ada, entah darimana.

Tanpa kusadari, aku telah ada di dalam lubang karena mengikuti sumber suara senandung itu. Ku dongakkan kepalaku mencari cara bagaimana dapat keluar dari lubang itu. Lalu aku melihat adanya uluran tangan dan sebuah senyum yang hangat menyapaku.

Let’s try again. This time, with Me.

Aku menyambut uluran tangan itu setelah sekian lama berdiri, merangkak, bertahan, dan melalui segalanya sendirian. Ia membantuku naik dari semua lubang yang terus membuatku terpleset dan terjatuh. Ia memelukku erat seakan aku akan terlepas jika pelukan itu merenggang sedikit saja.

11.59 PM

Sebelum hari ini berakhir, aku tau bahwa aku tak lagi sendiri dan akan sampai seterusnya begitu.

-j.v, Ia tetap menggenggam tanganku bahkan ketika jalanan tak lagi berlubang dan landai.

Advertisements