Pada waktu kesekian kalinya aku dikecewakan, hal yang aku sadari saat itu adalah bahwa sebenarnya aku sudah siap untuk menerimanya. Dari awal aku mengambil keputusan, aku sudah memahami dengan benar konsekuensinya.

Aku menangis? Tentu. Saat menerima sepucuk surat dan menyadari terdapat tulisan permintaan maaf di bagian atasnya, sudah cukup untuk membuatku menangis saat itu juga. Setiap kata-kata yang menyemangatiku, rangkulan dan pelukan, tak ada satupun yang dapat menembus hati kecilku yang mulai membeku.

Aku benci saat aku telah mencintai sesuatu dengan hampir seluruh hatiku, bahkan telah banyak hal yang telah ku korbankan untuk hal itu, aku harus berhenti hanya karna dipandang sebelah mata, sebagai seseorang yang tak mampu.

Kata-kata yang berusaha menenangkan seperti, “family means no one left behind” sempat membuatku merenungkan kembali semuanya.

Meski aku sadar bahwa itu adalah bullshit, aku mencoba untuk mempercayainya. Tentunya tak mudah bagiku untuk bangkit dari kekecewaan.

Saat hatiku sudah mulai meleleh, aku meminta penjelasan mengenai apa yang salah dariku dan tidak mendapat jawaban yang jelas. Aku tidak merasakan ada rasa amarah lagi, sedikitpun tidak.

Ada suatu kali, seseorang yang seharusnya termasuk memegang tanggung jawab atas kejadian yang kulalui, mendatangiku dengan ekspresi yang undescribe-able. Dia meminta maaf padaku karena hal yang terjadi di luar dugaannya dan tentunya di luar kemampuannya untuk menghandle itu. Aku tersenyum. 

Hari ganti hari, minggu ganti minggu, bulan ganti bulan, tahun ganti tahun, dan hari kelulusan SMA telah terlewat. Aku telah resmi meninggalkan zona nyamanku dan harus mempersiapkan diri untuk dunia yang lebih keras.

Muncul lah ide untuk bertemu-kangen dengan beberapa orang terdekatku-yang juga seharusnya bertanggung jawab atas kejadian kekecewaanku. Mungkin tidak lama. Tapi setidaknya, 3-4 jam telah cukup untuk bernostalgia. Aku sudah tidak merasakan apapun, kecuali rindu.

Hari itu aku sangat senang bertemu dengan mereka. Meski aku telah melalui hari-hari yang penuh kekecewaan karena keputusan mereka ( yang juga termasuk karena konsekuensi yang aku ambil ), aku hanya merasakan rindu. Mereka adalah 3 dari sekian banyak orang-yang-seharusnya-memegang-tanggung-jawab yang tidak merubah sudut pandang mereka dan memandang remeh terhadapku (yang mungkin juga hanya prasangka burukku). Karna yah, kasih yang kurasakan dari mereka tetaplah sama. Saat sebelum dan sesudah kejadian itu, mereka tidak berubah dalam memperlakukanku.

Dan aku tersadar bahwa meski pada nyatanya semua manusia membutuhkan materi, well, manusia lebih membutuhkan something unseen seperti kepedulian, apresiasi, dan dukungan daripada barang yang bernilai uang. Karena sesuatu yang tak terlihat jauh lebih berharga daripada apapun. Sesuatu yang tak terlihat mampu membuatmu merasa telah mendapatkan segala yang telah kau butuhkan.

Atau mungkin hanya aku yang merasakan hal ini? He he he.

Advertisements