“Aku ingin berhenti.” Kataku.

“Apa?”

“Berhenti. Untuk semuanya.” Aku menghela nafas yang cukup panjang.

“Kenapa? Bukankah hidupmu sudah sempurna?”

Aku tersenyum.

Money, good grades, and love. You have them all. You should feel enough, right?

You can’t see what i clearly see here.” Kataku lagi.

“Ah, right. Memang aku tidak dapat melihat apa yang kau lihat di sana atau dimanapun. Begitupun sebaliknya denganmu, bukan?”

Aku memalingkan muka.

“Memangnya kenapa?” Tanyaku setelah beberapa detik melewati waktu dengan keheningan.

Your life is better than some people. Can’t you see it as clear as you see your problem?

“Bukankah telah terbukti bahwa pekan lalu aku seseorang yang gagal?” Kataku tersenyum tipis.

“Aku percaya bahwa kau lebih baik dari ini. Trust yourself more.”

“Lalu kenapa mereka pergi?” Tanyaku sambil memandanginya.

“Mereka?”

“Mereka yang katanya peduli denganku, yang katanya akan selalu ada untukku, bahkan pada masa-masa tersulitku.” Jelasku.

Well, hidup mereka bukan hanyalah tentangmu. Lagipula mereka yang katamu hilang, tidak benar-benar hilang. Mereka hanya sedang sibuk mewujudkan mimpi mereka sendiri. Bukankah sebaiknya kau pun mulai begitu?”

Hari itu kusadari bahwa bayanganku pada pantulan air hujan lebih mengerti keinginan hati kecilku untuk berucap beberapa tahun yang lalu. Dan kusadari pula bahwa ia adalah bagianku. Dia adalah aku yang telah lama hilang dari kehidupanku.

-j.v.

Your Alone Reflections are The Scariest.

Advertisements