Minggu lalu adalah hari pertama aku memasuki kampus sebagai mahasiswa untuk urusan kuliah; yang biasa disebut sebagai ospek. Sudah dari malam-malam sebelumnya aku sangat bersemangat seperti anak TK yang akan memasuki jenjang Sekolah Dasar. 

Seperti hari-hari normal sebelum liburan, aku memasang alarm pukul 6 pagi karena keesokan harinya harus sampai di kampus pukul 8 pagi.

Aku terbangun pukul 5 dan yang pasti sebelum alarm ponselku berbunyi nyaring. Aku keluar rumah dan mencari sepatu yang cocok untuk ku pakai dengan setelan hem putih dan celana kain hitam polos. Ku temukan sepatu berwarna putih yang dulu sangat ku sukai saat SMP. Masih terlihat sangat bagus dan bersih. Ku putuskan mengenakan sepatu lama itu untuk menyambut hari pertamaku memasuki dunia kuliah.

Setelah pacarku sampai di rumahku untuk menjemputku, aku langsung bersiap-siap dan mengenakan sepatu itu. Rencana kami hari itu adalah mengambil ijazah di sekolah, baru setelah itu ke kampus untuk menjalani briefing “ospek” atau yang di kampus kami disebut WGG.

Perjalanan yang panjang menuju sekolah, sesampainya di sana, aku tersadar bahwa sol sepatuku mulai terangkat seperti akan terlepas dari tempat yang seharusnya. Aku yang dari lantai 3 karena menunggu wali kelasku makan, harus turun ke lantai 1 untuk meminjam lem. Untunglah satu guru matematika kesukaanku mempunyai lem UHU. Aku merasa terselamatkan karenanya. (THANKS TO MS. TIWI! AILAFYU!)

Seleganya aku karena mengetahui sol sepatuku sudah kembali ke tempat asalnya, wali kelasku memanggilku untuk menyerahkan ijazah (Again; THANKS TO MR. DWI YANG SUDAH MEMBUATKU MENUNGGU. PENANTIAN YANG TIDAK SIA-SIA).

Perjalanan kami berlanjut ke kampus setelah menerima ijazah. Waktu itu rasa excitedku belum hilang juga. Bertemu teman-teman baru, kakak kelas baru, tempat belajar baru, dan banyak hal baru lainnya! Aku sangat tidak sabar! Saking senangnya aku beberapa kali melompat-lompat sesampainya di kampus.

Aroma kampus yang tidak pernah ku cium sebelumnya, membuatku bertambah semangat.  Barisan jurusanku sudah mulai memanjang. Karena jurusan pacarku (agak) berbeda dari jurusanku, ia disuruh berbaris di sisi lainnya. Aku melihat sol sepatuku yang kembali berada di tempat yang tidak seharusnya saat kami di suruh duduk untuk menunggu.

“Ini gimana? Solnya lepas lagi” Kataku pada pacarku.

“Sungguan tah? Yapa ya…” Kata pacarku dan sepertinya sedang berpikir keras.

Setelah sedikit ribut, akhirnya sepatuku dibiarkan seperti itu dengan bantuan satu peniti yang tidak sengaja ku bawa dengan harapan jika sol sepatuku lepas, masih dapat bertahan di bawah kakiku meski hal itu membuatku sedikit tidak nyaman dalam berjalan.

Barisan kami menuju ke lantai 2 untuk mengikuti briefing di Auditorium.

“Untung duduk disini ya. Cepatlah berlalu jam 6!” Batinku setelah mengambil tempat duduk di pojok yang jauh dari pacarku karena kami dipisahkan oleh panitia.

Jam telah menunjukan pukul 3 lebih dan panitia mulai membubarkan kami. Mereka meminta mahasiwa-mahasiswi jurusanku turun ke lantai satu untuk berkumpul di lapangan hijau. Kami berbaris kembali dan aku melihat ke arah sepatuku dengan solnya yang mulai bertambah miring dan bagian belakangnya mulai terlepas. Aku menghela nafas panjang.

Aku menoleh ke arah pacarku dan membenarkan sol sepatuku.

Heh! Jok diumek ae!” Katanya padaku 2 kali berturut-turut dengan kalimat yang sama karena aku terus berusaha meluruskan sepatuku.

Panitia meminta kami berjalan untuk pindah gedung dari gedung W ke gedung T (Anak UK Petra pasti paham nama gedung-gedung ini jaraknya tidak begitu jauh).

“Bisa ta?” Tanya pacarku saat kami mulai naik tangga.

“Ya bisa. Justru aku khawatir waktu turunnya” Kataku dengan tersenyum.

“Yaudah nanti kamu turunnya pake sepatuku. Gimana?” Katanya menawarkan bantuan.

“Hah? Memang gapapa?” Tanyaku lagi.

“Ya gapapa lah” Jawabnya lagi.

Sesampainya di lantai 5 (Udah pindah gedung, lantai 5. Iya. Deket kok. Deket. Kalo naik lift ya deket. CUMA SAYANG WAKTU ITU NGGAK BOLEH PAKE LIFT) dengan nafas terengah dan kondisi sepatu yang sudah tidak dapat dijelaskan lagi, kami kembali berbaris untuk bersiap memasuki ruangan briefing berikutnya.

Untungnya kami kembali diperbolehkan untuk duduk di kursi.

Safe!” Batinku lagi.

Beberapa menit berjalan, aku teringat sesuatu,

“Sayang, habis bubaran ini kan kita masih di kampus. Memangnya boleh nyeker?” Tanyaku pada pacarku yang ada di sebelahku.

“Emang nggak boleh?” Tanyanya balik.

“Ya nggak boleh. Kan ada peraturannya-_-” Jawabku.

Setelah sesi berakhir, salah satu temanku mengajak kami untuk jalan-jalan setelah hari itu berakhir. Meski ia telah mengetahui keadaan sepatuku.

Nggapapa. Pake sepatuku ae. Aku ada 3 sepatu di kos” katanya sembari menunjukkan angka 3 dengan jarinya. Aku hanya mengacungkan jempol.

Jam telah berlalu dan kami diminta untuk pindah ke gedung teknik yang ada di seberang. Ngapain? Mengambil jas almamater. Saat hendak menuruni tangga, pacarku melepaskan sol sepatu yang sudah semakin miring dan menyimpannya di dalam tas kesayangannya.

“Gimana? Lebih enak?” Tanyanya.

“Lebih enak sih… tapikan…” Kataku terputus.

“Nah.. Gitu nggak mau dari tadi di copot..” Katanya lalu melanjutkan perjalanan kami ke gedung sebelah karena keamanan telah meminta kami berjalan dengan cepat.

Dari arah belakang, secara tak sengaja aku mendengar ada panitia yang berkata, “Itu loh ada anak yang sepatu e gaada sol e“. Hening.

Ku percepat langkahku dan sampailah kami di gedung teknik.

“Duduk dulu ya!” Kata panitia yang bagiku terasa seperti hukuman karena harus duduk di lantai. Bisakah kau bayangkan betapa sulitnya aku waktu itu, sepatu tanpa sol dan kau harus duduk di lantai untuk beberapa puluh menit ke depan?

Setelah berhasil survive di antrian MaBa dan mendapatkan jas almamater dengan selamat, aku teringat telah membeli barang di Koperasi Mahasiswa yang belum ku ambil. Kami harus kembali ke gedung yang sebelumnya. Saat hendak kesana, pacarku memintaku untuk melepaskan sepatu dan mengenakan sepatunya.

“Memangnya nggapapa? Kan masih mau ke wilayah kampus” Kataku.

“Ya nggapapa lah” Jawabnya lalu melepas sepatu.

“Trus kamu gimana?” Tanyaku.

“Ya nggapapa. Aku udah biasa nyeker” Katanya lagi.

“Trus nanti kamu nyetir motornya nggak pake sepatu?” Tanyaku sambil melepas sepatuku.

“Nggapapa lah. Aku biasa e pulang futsal juga nyeker” Jawabnya lalu ku masukkan sepatuku dan mengenakan sepatunya yang besar.

Hari itu berakhir dengan bahagia setelah kami berhasil mengambil barang di gedung seberang dan… rest in peace sepatu putih bersihku yang telah menemaniku untuk menimba ilmu saat SMP. ( 2012-2017 ) Bagaimana kabar temanku? Rencana pergi itu dibatalkan karena tidak ada yang bisa ikut. Lol.

But well, hari itu aku belajar.. Terkadang hal lama yang tiba-tiba muncul bukan berarti hal itu baik untuk digunakan kembali.

Advertisements