Beberapa hari yang lalu, aku sempat membaca tulisan pendek tentang sebuah kisah seorang anak kuliahan yang kini telah memasuki umur 20 tahun dengan keluarganya di LINE. Ia menuliskan dengan detail apa-apa saja keresahannya dan meminta saran dari para pembacanya.

Ia menuliskan di awal-awal, ia memiliki seorang mama yang suka shopping, khususnya baju untuk senam. Belanja baju seminggu sekali, seakan itu adalah bagian dari rutinitasnya. Bahkan hingga menggunakan uang gaji bonus papanya dan mengambil dari uang jajannya (karena via transfer dan papanya mempercayakan masalah keuangan ke istrinya itu). Baju senam mamanya terus bertumpukan, sampai dimasukkan dalam lemari kamarnya yang tak lagi muat untuk dimasukkan baju-bajunya sendiri. Untungnya, dia sekarang tinggal di kos, sebagai anak perantauan.

Mamanya tak pernah ada di rumah. Selalu sibuk pergi ntah kemana, dan tak pernah menyiapkan makanan apapun untuk anak bungsunya yang masih tinggal di rumah. Aku tak mampu menceritakan semua yang ia tulis disini. Terlalu sedih untuk aku ingat detail kisahnya. Mungkin yang ingin tau, bisa mencari di akun SMS Draft atas nama, anak yang sekarang berumur 20 tahun, kalau aku tak salah ingat. Not recommend, kecuali kalian benar-benar penasaran. Bagiku, sebagian kisah yang aku tulis dari kisahnya itu sudah cukup berat untuk dilalui, jika aku adalah dia. Aku yakin benar aku akan menghabiskan setiap malamku saat pulang ke rumah dengan menangis.

Setelah membaca kisah ini, aku melihat kembali hidupku. Ada masa dimana aku membenci mamaku lebih dari siapapun. Terutama saat ia melarangku untuk melakukan ini dan itu. Tapi setiap kali aku marah kepadanya, aku selalu dapat menemukan alasan mengapa ia begitu kepadaku, dan semuanya itu berdasarkan pada kasih.

Mungkin terkadang kita terlalu sibuk meminta, tanpa menyadari bahwa sebenarnya kita telah mendapatkan banyak hal yang tak pernah kita minta. Masih banyak orang-orang seumuran kita yang mengalami begitu banyak struggle dalam hidupnya dan yah, mereka tetap hidup dengan bersyukur. I can’t say, they have a bigger problem than you or me. Karena pada akhirnya yang menentukan berat atau tidaknya sebuah masalah adalah point of view. Ketika kamu dapat melalui masalah yang besar (bagimu), tidak ada yang menjamin kamu akan dapat tenang dalam menjalani masalah yang kecil. Tergantung dari bagaimana kamu melihatnya. Karena pada nyatanya, tak ada masalah yang terlalu besar dan masalah yang terlalu kecil dalam hidup. Semuanya tetap berupa m a s a l a h. Yang ada hanyalah sudut pandang, akan mampukah kita melaluinya?

Advertisements