Dear “Dilan” ku 2017,

Hai, apa kabar? Apa kamu sudah bahagia? Bagaimana 14 febuari mu tahun ini? Apakah sebaik saat dulu kisah kita mulai menjadi rumit?

Terima kasih untuk setiap ungkapan katamu dulu saat SMA. Aku senang pernah jadi seberharga itu di matamu. Aku rindu sebagai teman. Aku rindu kata kita yang dulu. Bukan yang canggung seperti sekarang.

Maaf aku telah mencintai orang lain yang bukan kamu. Aku hanya tidak bisa mencintai kamu. Terlalu berat. Bahkan rindu saat ini terasa berat. Sekedar membuat janji untuk saling sapa juga terasa semakin berat. Sekarang aku ini apa bagimu? Sekedar masa lalu yang gelap, yang pernah mengisi hari-harimu kah? Salahku. Terlalu bergantung padamu saat itu. Aku lupa bahwa kamu pun juga manusia yang tak luput dari kecerobohan memberi cinta.

Kamu tau? Ternyata hal yang membuat aku bisa mempunyai pacar yang bukan kamu adalah hasil sebagian dari rencanamu, semacam inverse side effect. Aku juga terlalu ceroboh dalam memberi cinta; seperti kamu. Maaf.

Hal yang tak kusangka lainnya, saat itu dia sudah ingin menyerah akan aku. Aku tau rencana kita sempurna saat itu! Dan yah, akhirnya sepotong curros cokelat kesukaanku di hari valentine 2017 telah merusak semua rencana yang telah kita susun bersama selama seminggu penuh untuk sekedar pergi dari masa laluku. Maaf.

Kamu manis. Namun hanya dalam kata. I find it odd when i can see all i need in him, not you. Sebuah aksi yang menunjukkan rasa cinta, tak hanya kata. Aku dapat melihat dirimu dari caramu berkata dan aku dapat melihat cintanya dari caranya melakukan sesuatu untukku. Salahkah bila aku menjadi cinta padanya?

Karena cinta berawal bukan dari berjuta kata-kata manis, tetapi dari usaha hati yang terus berlari, berjalan, merangkak tanpa peduli akan hal hal kecil maupun keraguan sekitarnya. – Pacar “Milea” mu, 2018.

Ah, satu lagi catatan (panjang) untukmu. Jangan memiliki pride yang terlalu tinggi. Dosa. Kamu tidak akan kuat. Aku pun tidak akan kuat. Karena itulah aku juga mulai belajar menurunkan pride

Jangan pula percaya pada kata orang, “Cinta tidak harus memiliki? Bullsh–“. Percayailah saja, “Cinta tak harus memiliki”. Jangan ditambahi. Karena pada nyatanya kamu belum bisa memiliki aku seperti keinginanmu dahulu. Ikhlas memang tidak mudah. Jika mudah, dunia kita akan kekurangan lajang-lajang yang selalu berdoa untuk hujan di malam minggu.

Perjuangkan dan nantikanlah “Milea” mu yang lain dengan sabar. Jangan hanya diam dan bermain kata. Ingatlah selalu bahwa wanita tidak (hanya) butuh kata. Karena cupcake disukai wanita di saat haid bukan karena hanya manis diatasnya, tetapi juga di dalamnya.

Setahun telah berlalu dan aku baru ingin mengungkapnya sekarang secara ambigu, karena aku berharap hanya kamu (tak lupa juga pacarku yang sekarang) yang dapat memahami kisah kita ini dengan lengkap dan rinci. Aku memang ingin menulis kisah ini hanya secuplik saja, jadi tolong biarkanlah blog-mail ini menjadi bagian dari kisah kita.

Aku akan selalu ada disini. Panggil atau mengobrol lah dengan aku saat senggang. Aku selalu ada; yang tidak selalu ada adalah sinyal Wi-Fi rumahku, terkadang mati. Aku selalu ada kapanpun. Kecuali saat subuh; aku tidur. Aku tidak akan kuat untuk begadang dan menanti kabar darimu. Mari berteman kembali seperti pertama kali, sebelum terjadi banyak hal. Akhir kata, seperti kata pegawai pertamina, “mulai dari nol ya..?”.

Sudah. Begitu saja blog-mail ini saya sampaikan. Terimakasih.

– Aku “Milea” mu 2017, Aku masih belum mencintaimu, nanti sore pun aku masih belum akan mencintaimu, besok, dan sampai kapanpun aku belum akan mencintaimu yang hanya penuh kata manis.

.
.

.
(+) b o n u s  untuk kamu yang sedang di mabuk asmara namun masih hanya sekedar teman baginya, 

Advertisements